Membangun Kembali Fundamen Politik Proletariat
Dari Haymarket 1886 menuju zaman yang nyata, zaman yang terjadi, baik sekarang ini maupun masa yang akan datang, sudah sangat jelas, nasib buruh lahir dari titik-titik perjuangan dan penuntutan hak yang masif dari kepalan tangan mereka sendiri. Buruh dibekali oleh sikap kemandirian menyikapi banyak kontradiksi atas perbedaan kelas yang seringkali memunculkan stigma-stigma terhadap pola kehidupan sosial mereka. Upaya-upaya untuk memperbaiki hak-hak kaum proletar melalui keputusan Konferensi Sosialis Internasional pada 1 Mei 1889 merupakan hasil dan janin yang lahir dari perlawanan 'martir' terhadap kebijakan borjuasi dan kejamnya masa awal budaya kapitalistik dunia pasca revolusi industri.
Lalu bagaimana wajah kaum buruh setelahnya? Lantas bagaimana kita menyebut itu sebagai suatu keberhasilan jikalau dunia masih terpisahkan oleh dinding-dinding nir-faktual dan pembungkaman situasi terhadap wajah dunia yang sebenarnya? Kongres dan pengorganisasian tidak lebih dari kekuatan untuk menciptakan aturan dan kebijakan yang diperantarai melalui tulisan dan catatan, sisanya adalah orasi dan perlawanan yang tidak habis-habisnya diakukan sebagai inang penuntutan dan reaksi atas berbagai macam isu baik dari kaum buruh sendiri maupun isu-isu yang mengancam kestabilan sosial kelas proletariat, khususnya menyangkut tindak-tanduk elit-elit kapitalisme borjuasi. Kita mungkin melihat banyak keberhasilan dan peningkatan kesejahteraan kaum buruh di berbagai wilayah, entah itu diungkapkan melalui kelas pekerja sendiri maupun sekedar klaim dari pihak otoritas tertinggi. Namun dalam tingkatan yang lebih detail dan dalam sudut pandang kaum buruh yang lebih tradisional, apakah hak-hak kemanusiaan secara fundamental terpenuhi?
Tidak ada yang benar-benar nyata dan dengan mudah dipercayai kenyataanya di dalam peningkatan cara pandang dan pola pikir masyarakat modern terlebih bila menyangkut mengenai eksistensi pergolakan kelas, semua diupayakan untuk meraih superioritas dan persaingan, semua diupayakan sebagai ladang mencari nilai output yang besar, dan dalam cara-cara mereka, seringkali sistem untuk meraihnya adalah dengan melakukan penyelewengan terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi hak asasi maupun kehidupan kaum pekerja. Masih hangat di telinga akan kasus perbudakan pekerja dan pemberangusan HAM oleh kaum-kaum pemodal di salah satu industri illegal di Tanggerang beberapa tahun lalu, suatu tragedi yang mengingatkan kita bahwasanya kaum pekerja masih di dalam ambang batas resiko yang besar di dalam pekerjaanya bahkan dibuat tak ubahnya seperti binatang yang dibentuk sedemikian rupa agar menjadi mesin yang terus bergerak dengan upah yang seadanya. Masih nyaring pula di telinga maupun kita lihat dengan mata kepala sendiri tentang banyaknya PHK sepihak tanpa sebab yang ditimpakan terhadap kaum buruh, banyaknya pekerja di bawah umur yang ditemukan di industri-industri swasta, serta nasib kaum buruh yang seakan ditempatkan pada ujung tanduk yang dalam artiannya mereka bekerja dengan mempertaruhkan nyawa tanpa adanya jaminan kesehatan yang memadai. Pada kasus lain, masih sering kita dengar banyaknya pekerja yang seakan dipaksa maupun terpaksa untuk terlibat di dalam kegiatan produksi barang-barang terlarang dan kriminil karena itikad pengepul hasil dan pemodal, pada akhirnya kaum buruh sendiri yang menerima konsekuensi lebih dari apa yang ia lakukan atas pertanggungjawaban pemodal, sama cerita dengan kasus-kasus pelanggaran produksi di industri-industri besar, para elit birokrasi industri justru selalu mendapatkan angin segar dari sanksi dan para buruh seringkali mendapati bahwa dirinya lebih merugi dengan adanya kasus-kasus semacam itu. Sebuah bukti bahwasanya bahkan di jaman modern dewasa ini, seringkali nasib buruhpun seakan dijadikan alat untuk mencari keuntungan dan hasil meskipun melalui cara-cara yang melawan hukum dan jelas merugikan kaum buruh itu sendiri.
Sejarah telah mencatat, buruh sudah berjalan dari zaman dimana penindasan dan perbudakan adalah hal yang lumrah, adalah hal yang konkrit, adalah hal yang wajar, sehingga mereka belajar dari itu semua, bahwa memang benar penindasan itu harus segera dilumatkan, disingkirkan, diberangus supaya benih-benih perbudakan dan kesewenangan tidak lagi bernaung di atas wilayah dimanapun di muka bumi ini. Lalu apa perantara ide-ide yang sesuai demi terlaksananya cita-cita tersebut? Banyak cara untuk mereka menemukan jati diri dan memperjuangkan nasib mereka sebagai kaum proletar. Dan cara yang sering digunakan lebih kepada perjuangan melalui afiliasi dengan visi misi politik maupun terjun langsung kedalam dunia birokrasi.
Melihat dampaknya, keberhasilan kesejahteraan buruh mempengaruhi wajah dari banyak nilai, kesejahteraan kaum buruh adalah cerminan mobilitas roda ekonomi suatu negara, penerapan baik atau tidaknya kebijakan dan tentu saja, pemenuhan hak asasi yang memang sudah diwajibkan untuk dijalankan oleh pihak-pihak yang merasa meraup hasil dari tetesan keringat kaum buruh. Tetapi dalam menelaah nasib kaum buruh tidaklah serta merta sesederhana pernyataan diatas. Lebih dari itu, kesejahteraan kaum buruh mungkin terbalik 180 derajat dari kondisi tingkat kemakmuran suatu wilayah maupun berjalannya stabilitas ekonomi. Maka dari itu, di era birokrasi modern yang berjalan secara demokratis, perlu adanya wadah aspirasi dan pengawasan situasi maupun kondisi kaum buruh yang lebih luas, dan pula dalam artian yang mencakup tujuan-tujuan politis yang lebih mapan, wadah yang benar-benar menjadi tunggangan untuk buruh itu sendiri, sehingga tidak ada lagi lelucon lama dimana buruh sekedar menjadi sapi perah, atau hanya sekedar pemenuh kotak-kotak suara dari sandiwara elit politik dan borjuasi. Kekuatan buruh harus mulai dibentuk dan mengakar secara masif, tidak ada lagi afiliasi dengan janji-janji kampanye atau janji-janji segelintir elit politik maupun kerjasama bersifat transaksional yang hanya menciderai cita-cita kaum buruh untuk tetap menjunjung tinggi netralitas dan berdiri atas nama buruh.
Untuk itu, pergerakan buruh yang sesuai adalah dengan penciptaan politik alternatif yang benar-benar berpihak terhadap eksistensi kaum buruh. Dengan kelas proletar masuk kedalam ranah politik yang selama ini diharapkan menjunjung tinggi nilai-nilai transparansi dan demokrasi, maka diharapkan nasib dan peluang cita-cita kaum buruh akan lebih mudah tersampaikan dan diperjuangkan melalui kader-kader mereka di hadapan birokrasi.
Dengan penciptaan politik semacam itu, maka buruh juga sangat diharapkan mendapatkan wajah politisnya di hadapan rakyat, dan pula keseimbangan terhadap posisi-posisi politik yang selama ini sudah akrab dikuasai oleh kelas-kelas elit borjuis yang erat dengan kongkalikong, bagi-bagi jabatan serta budaya nepotisme.
Mengapa Dibutuhkan Partai Buruh?
Partai Buruh bukanlah hal yang baru di Indonesia, partai buruh semenjak era demokrasi politik dalam negeri lepas dari tirani dan kekangan penguasa orde baru, kekuatan politik kaum buruh telah beberapa kali menciptakan pamor yang naik turun di bursa kuasa di musim-musim awal pemilihan secara langsung. Tentu bukan tanpa alasan ketika Partai Buruh tiba-tiba tenggelam dan tidak nampak lagi tajinya, ini tidak dapat diartikan sebagai kemerosotan sikap politik buruh dan bukan berarti pula sikap politis kaum proletar semakin redup setelahnya, namun ini dapat dijadikan modal dan pelajaran yang berarti bagi kaum buruh untuk menciptakan sikap politik dan kesadaran berpolitik yang lebih solid dan terarah sebagai bentuk kemandirian buruh menciptakan idealismenya demi kesejahteraan kaum buruh itu sendiri. Ada pondasi yang harus disusun untuk membangun itu semua, kesadaran kelas dan pergerakan massa, menilik kepada data Badan Pusat Statistik bahwa pada bulan Februari 2017 usia kerja di Indonesia berada pada kisaran 131,55 Juta dan status pekerjaan utama yang terbanyak adalah sebagai Buruh/Karyawan/Pegawai sebanyak 38,08 persen dari jumlah di atas dan jumlahnya selalu mengalami peningkatan yang diatas 3 juta jiwa per tahun. Ditambah lagi dari data tersebut, terdapat berbagai struktur keorganisasian buruh yang sudah malang melintang menjadi pijakan buruh dalam berserikat, suatu modal besar dan utama dalam penciptaan kekuataan massa politik yang besar dan terorganisir.
Lewat penciptaan kekuatan politik tersebut, pembentukan partai buruh bukan semata-mata sebatas hanya untuk euforia semata, sekadar hanya untuk memanaskan kursi pencalonan saja, tentu itu tidak relevan dengan semangat perjuangan kaum buruh yang berlandaskan cita-cita dan sikap fundamen masyarakat komunal yang kolektif. Penciptaan politik kaum buruh dan pematangan idealisme kaum buruh tentu dihadirkan sebagai upaya yang lepas dari keterpihakan parpol-parpol terhadap kelas elit borjuasi yang hanya menimbulkan paradigma-paradigma bahwa kekuasaan sepenuhnya dikuasai oleh lingkaran keuntungan semata, dan seperti yang saya tulis sebelumnya, buruh tidak lagi dan selamanya tidak boleh hanya sebagai pemenuh kotak-kotak suara, kekuatan massa yang masif maupun sekedar jabat tangan pendamping kontrak visi misi di panggung-panggung kampanye partai politik.
Dapat kita dipahami, dalam pembentukan kesadaran politik tentu bukan hal yang mudah, bukan hal yang terjadi dalam satu malam saja, proses yang dilalui sangatlah perlu kematangan dan sejatinya akan dilewati melalui sikap-sikap kontradiktif pandangan dalam penciptaan segala keputusan. Namun itu bukan berarti kemustahilan, pergerakan massa dapat dibentuk dengan perlahan dan pasti, melalui propaganda-propaganda terhadap seluruh organisasi entah itu serikat besar maupun perkumpulan terkecil yang perduli terhadap nasib-nasib kaum proletar, tentu, semangat itu sudah lama mengalir dan dimiliki oleh segenap kaum buruh serta jajaran hirarkisnya dan bahkan telah menjadi semacam pembentuk idealisme para akademis, semangat itu pula yang membuat pemerintah pada akhirnya menetapkan 1 Mei sebagai hari buruh, semangat itu pula yang menyatukan serikat kaum buruh untuk bersatu di bawah langit 1 Mei, semangat itu pula yang membuat jutaan buruh berbondong-bondong menyampaikan aspirasinya di hadapan penguasa atas segala tingkah lakunya yang seringkali menjadi pintu masuk kesewenangan dan penindasan. Maka dari itu, bukan suatu yang mustahil untuk menciptakan pergerakan revolusioner fundamental, ketika solidaritas sudah mencapai klimaks, dan tatanan dalam diri kaum buruh itu sendiri sudah berjalan dan sejalan dalam satu pemikiran, idealisme sudah terbentuk sejak itu juga, prinsip-prinsip sudah ada dan kesadaran massa sudah mulai tumbuh seiring dengan berjalannya sistem-sistem kapitalistik yang semakin menggerus dan seakan memalingkan diri dari keberadaan entitas kaum buruh dan rakyat miskin. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Miriam Budiardjo dalam bukunya, bahwa partai politik ialah suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama, tujuan kelompok ini untuk memperoleh kekuasaan – biasanya secara konstitusional – untuk melaksanakan program-programnya. (Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Edisi Revisi, 2009, hal 403-404).
Keberhasilan Struktural Partai Buruh Di Dunia
Kita harus belajar dari pergerakan-pergerakan organisasi Partai Buruh di berbagai belahan dunia, bisa kita ambil contoh di banyak negara yang memiliki tingkat kualitas politik yang maju. Partai buruh Inggris tentu sudah sangat mahsyur terdengar dalam dinamika politik internasional dalam peran mereka di hadapan kekuasaan tanah imperialisme dan monarki tersebut, merekalah yang memaksa kekuasaan konservatif yang anti-kiri itu harus menelan pil pahit beberapa kali karena kehilangan banyak kursi parlemen serta memaksa dunia untuk melihat 7 kali hadirnya perdana menteri yang lahir dari rahim partai berideologi sosialisme demokratik itu.
Di Australia, partai buruh sudah berhasil mengangkat perdana menteri selama perjalanan politik mereka. Sama halnya di Amerika Serikat, yang sudah lama didapuk menjadi nenek moyang segala jenis kapitalisme di dunia terlebih lagi atas peran mereka yang besar pada perang dingin sebagai pemimpin front kapitalisme melawan Uni Soviet dalam perang non-fisik besar tersebut, kini Amerika Serikat mulai memberikan stigma serta reaksi terhadap pergolakan kelas yang terjadi di negeri Paman Sam tersebut, menurut berbagai data, pemahaman dan ketertarikan masyarakat terhadap Sosialisme mulai tinggi, dan sebaliknya, tingkat kepercayaan terhadap kapitalisme mulai menurun dan bahkan justru banyak menimbulkan sikap kontradiksi di kalangan politisi Amerika, sebuah survei internal partai Demokrat juga menemui bahwa ideologi sosialisme mendapatkan ketertarikan dengan rataan 55 persen ketimbang kapitalisme yang meraup 45 persen suara, situasi yang tabu tersebut tidak lain karena di masa modern sekarang ini mulai bermunculan para tokoh-tokoh penggerak sosialisme yang mulai berani menampilkan sikap-sikap kekirian di konvensi-konvensi partai maupun masa-masa eleksi seperti calon presiden Amerika Serikat yang mendaulat diri bersaing di bursa pemilihan presiden tahun 2020, Bernie Sanders. Kekuatan-kekuatan sosialisme juga mulai merata dan menunjukan jati dirinya di kursi-kursi pendidikan dan akademik yang menjadikan sosialisme dan isu-isu pergolakan kelas sebagai pokok-pokok bahasan menarik, yang seakan memberikan ruang alternatif dalam hiruk-pikuk politik di negara Adidaya tersebut. Lebih jauh lagi dan yang terbaru, tentu saja keberadaan Partai buruh Selandia Baru, keberhasilan mereka menguasai parlemen dan bahkan berhasil mengangkat perdana menteri termuda adalah akumulasi dari opini politik yang beragam dari kaum buruh serta sebuah bukti masih adanya dinamika politik yang berlandaskan idealisme milik kaum proletari di masa modern dan pula dari pemikiran kaum intelektual muda yang notabene menjadi kader paling utama terhadap keberlanjutan perjuangan kaum buruh dari segi dan bidang apapun.
Bisa kita pahami dan pelajari bersama bahwasanya kesuksesan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah kemajuan dan efektivitas yang sejalan bersama solidaritas idealisme kaum buruh dan pergerakan kelas. Dengan keberhasilan meraih kekuasaan, partai buruh dapat leluasa menciptakan kebijakan dan aturan yang sejalan dengan cita-cita masyarakat proletar.
Perjalanan dan perjuangan aspirasi buruh di dunia tanpa disadari maupun disadari telah banyak membawa angin perubahan dan keselarasan pemikiran dari kaum buruh itu sendiri, pengumpulan massa dan solidaritas tiada batas telah menciptakan relevansi dan sokongan mental yang sangat besar bagi kesadaran kelas menuju era revolusi, dimana kapitalisme yang sering menempatkan diri diatas segitiga ekonomi lambat laun di masa depan akan mulai tumpul dan melepaskan cengekeramannya yang selama ini tajam mencekik masyarakat kecil dan terpinggirkan khususnya dari kalangan kaum buruh sebagai mesin sumbangsih terhadap kantung-kantung elit pemodal.
Keberhasilan buruh di berbagai wilayah dalam urusan birokrasi dapat dijadikan inspirasi terbesar dalam upaya menegakan kembali hak politik kaum buruh secara signifikan dan frontal, keberhasilan yang patut ditiru dan dijadikan ilham bagi langkah-langkah politis kaum proletariat selanjutnya di masa yang akan datang.
Sudah saatnya idealisme proletariat kembali menunjukan eksistensinya di negeri ini, menempatkan birokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat secara harfiah. Tidak ada lagi janji-janji balik modal dan janji-janji yang sekedar nyaring di telinga orang kecil namun penerapannya sering melenceng dan mendustakan amanah yang sudah diberikan dengan menjadikan masyarakat kelas bawah sebagai alat pemasok suara-suara. Tidak ada lagi angin segar yang hanya menunjukan superioritas konservatif, menaruh suara hanya kepada masyarakat tertentu saja, hanya kepada kontrak partai saja, yang tanpa disadari akan mengikis keutuhan masyarakat dan memperbesar gap antara yang kaya dan yang miskin. Sebaliknya, partai buruh dapat diandalkan sebagai alat reformasi dan aspirasi masyarakat kecil khususnya kaum pekerja demi menunjukan elektabilitas yang sesuai dengan cita-cita masyarakat, menuju kestabilan sosial, pemerataan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
....
Oleh Aldi Dwi Seftian

Komentar
Posting Komentar